Play & Download Video/Audio Kajian Islam Ahlus Sunnah
Showing posts with label Ust.Ahmad Zainuddin. Show all posts
Showing posts with label Ust.Ahmad Zainuddin. Show all posts
Friday, July 20, 2012
Seputar Hukum Menghadiahkan Amalan Kepada Mayat Kajian Ketiga
Disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin LC Di Islamic Cultural Center, Ad Dammam KSA
Labels:
Kajian Umum,
Ust.Ahmad Zainuddin,
Video
Sunday, April 29, 2012
Seputar Hukum Menghadiahkan Amalan Kepada Mayat Kajian Kedua
Disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin LC
Di Islamic Cultural Center, Ad Dammam KSA
Labels:
Kajian Umum,
Ust.Ahmad Zainuddin,
Video
Seputar Hukum Menghadiahkan Amalan Kepada Mayat Kajian Pertama
Disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin LC
Di Islamic Cultural Center, Ad Dammam KSA
Labels:
Kajian Umum,
Ust.Ahmad Zainuddin,
Video
Sunday, November 27, 2011
Studi Banding Tashawwuf dan Ahlus Sunnah (Kajian Ketiga) - Video Kajian
Disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin LC
Di Islamic Cultural Center, Ad Dammam KSA
Klik disini untuk download audio
Di Islamic Cultural Center, Ad Dammam KSA
Klik disini untuk download audio
Labels:
Kajian Umum,
Ust.Ahmad Zainuddin,
Video
Tuesday, November 22, 2011
Studi Banding Tashawwuf dan Ahlus Sunnah (Kajian Kedua) - Video Kajian
Disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin LC
Di Islamic Cultural Center, Ad Dammam KSA
Klik disini untuk download audio
Di Islamic Cultural Center, Ad Dammam KSA
Klik disini untuk download audio
Labels:
Kajian Umum,
Ust.Ahmad Zainuddin,
Video
Saturday, November 19, 2011
Studi Banding Tashawwuf dan Ahlus Sunnah (Kajian Pertama) - Video Kajian
Disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin LC
Di Islamic Cultural Center, Ad Dammam KSA
Klik disini untuk download audio
Di Islamic Cultural Center, Ad Dammam KSA
Klik disini untuk download audio
Labels:
Kajian Umum,
Ust.Ahmad Zainuddin,
Video
Monday, November 14, 2011
Panutan Penyesat Umat (Refleksi dari 11/11/11)
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi panutan orang banyak…
Tulisan ini untuk setiap makhluk yang setiap perkataan dan perbuatannya diikuti orang banyak…
Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi trend made orang banyak…
Tulisan ini tertulis untuk Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak menjadikan seorang sebagai panutan yang menyesatkan mereka dari Jalan Allah Ta’ala, panutan yang sebenarnya dia adalah pembawa ke jalan syetan, jalan neraka. Nau’dzubillah.
Tulisan ini tertulis ketika saking banyaknya panutan, tapi menyesatkan umat dari Jalan Allah Ta’ala, baik dengan melakukan:
- Kesyirikan dengan Istightsah dan Tawassulnya kepada orang-orang yang sudah mati.
- Kesyirikan dengan mengambil barokah dari dzatnya orang-orang shalih.
- Sarana penyebab kesyirikan dengan mencari-cari hari baik untuk pernikahan atau hajat,…dan lain-lain.
- Bid’ah dengan amalan-amalan dan shalawat-shalawat yang tidak pernah ada di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
- Bid’ah dengan pembacaan dzikir-dzikir yang dikhususkan tempatnya, waktunya, keadaaanya, jumlah bilangannya yang tidak pernah dikhususkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
- Maksiat dengan ta’arufnya padahal itu pacaran.
- Maksiat dengan bersalaman dengan wanita bukan mahram padahal larangan dan keharamannya jelas.
- Maksiat dengan tidak menjaga pandangan, meluaskan pandangan kepada wanita yang setengah telanjang.
- Maksiat dengan berkumpul dengan wanita-wanita bukan mahram tanpa ada penutup, bahkan wanitanya memakai pakaian yang tidak pantas dilihat kecuali oleh suaminya.
- Dan lain-lain dari perbuatan dosa.
Takutlah kepada Allah Ta’ala…jika Anda menjadi panutan orang banyak dalam dosa dan maksiat, karena Anda akan:
1) Menjadi orang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihin wasallam atas umatnya. Intinya adalah Anda adalah orang sangat berbahaya bagi umat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عنهم إلى يوم القيامة)
Artinya: “Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak takut atas umatku kecuali para pemimpin yang menyesatkan, dan jika diletakkan pedang dari umatkan maka tidak akan diangkat dari mereka sampai hari kiamat”. HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab Silsisilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1582.
Makna pemimpin:
1. Para pemimpin Negara yang sesat dan para ulama yang menyesatkan.
والمراد بقوله: "الأئمة المضلين": الذين يقودون الناس باسم الشرع، والذين يأخذون الناس بالقهر والسلطان; فيشمل الحكام الفاسدين، والعلماء المضلين، الذين يدعون أن ما هم عليه شرع الله، وهم أشد الناس عداوة له.
Orang-orang yang menuntun manusia dengan membawa nama syariat, dan orang-orang yang membawa manusia dengan kekuasaan, dan termasuk mereka ini adalah para pemimpin negara yang rusak dan para ulama yang menyesatkan, orang-orang yang mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah syariat Allah padahal mereka adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadapnya (syariat Allah). Lihat kitab Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid, karya Syeikh Ibnu Utsaimin.
2. Para pemimpin kekuasaan, para ulama, para ahli ibadah yang menyesatkan.
والأئمة جمع: إمام، والإمام هو القدوة الذي يُقتدى به في الخير أو الشر.
فإذا كانت القدوة من أهل الضلال ضلّت الأمة، وحصل فيهم الشر، ويراد بهم الأمراء الضالون، والعلماء الضالون، والعُبّاد الضالون، والدُّعاة الضالون، كل هؤلاء من الأئمة المضلّين، فإذا قاد الأمة هؤلاء قادوها إلى الهلاك، أما إذا قاد الأمة دعاة الحق قادوها إلى الصلاح والسلامة.
Aimmah adalah jamak (bentuk plural) dari imam dan Imam adalah panutan yang diikuti baik dalam kebaikan atau keburukan.
Jika panutan dari orang-orang yang sesat maka akan tersesat umat, dan terjadi ditengah-tengah mereka keburukan, dan mereka yang dimaksudkan adalah para pemimpin Negara yang sesat, para ulama yang sesat, para ahli ibadah yang sesat, dan para ahli dakwah yang sesat, setiap dari mereka adalah para pemimpin yang sesat, jika umat dituntun oleh mereka maka mereka akan menuntun kepada kebinasaan, adapun jika yang menuntun umat adalah para penyeru kebenaran maka mereka akan menuntun umat kepada kebaikan dan keselamatan. Lihat kitab I’anat Al Mustafid bi Syarh Kitab At Tauhid, karya Syeikh Shalih Al Fauzan.
Mari perhatikan beberapa pernyataan yang sangat bermanfaat di bawah ini:
أن الأئمة ثلاثة أقسام: أمراء وعلماء وعباد; فهم الذين يخشى من إضلالهم لأنهم متبوعون; فالأمراء لهم السلطة والتنفيذ، والعلماء لهم التوجيه والإرشاد، والعباد لهم تغرير الناس وخداعهم بأحوالهم; فهؤلاء يطاعون ويقتدى بهم، فيخاف على الأمة منهم; لأنهم إذا كانوا مضلين ضل بهم كثير من الناس، وإذا كانوا هادين اهتدى بهم كثير من الناس.
Bahwa para pemimpin itu ada tiga jenis: Umara (pemimpin Negara) , Ulama (para ahli ilmu agama), Ubbad (para ahli ibadah). Mereka inilah yang ditakutkan penyesatannya karena mereka adalah orang-orang yang diikuti, para Umara mereka memiliki kekuasaan dan pelaksanaan, para ulama mereka memiliki penyuluhan dan pendidikan dan para ahli Ibadah mereka memiliki penipuan dengan keadaan mereka. Merekalah orang-orang yang ditaati dan dipanuti, maka ditakutkan umat akibat mereka, karena mereka jika menyesatkan maka mereka akan menyesatkan kebanyakan manusia dan jika mereka memberikan petunjuk kepada kebaikan maka kebanyakan manusia akan mendapat petunjuk. Lihat kitab Al Qaul Al Mufid, karya Syeikh Ibnu Utsaimin.
أن الرجل العالم المقتدي به والمرموق بعين الصلاح إذا فعلها كان موهما للعامة أنها من السنن كما هو الواقع فيكون كاذبا على رسول الله بلسان الحال قد يقوم مقام لسان المقال وأكثر ما أتى الناس في البدع بهذا السبب يظن في شخص أنه من أهل العلم والتقوى وليس هو في نفس الأمر كذلك فيرمقون أقواله وأفعاله فيتبعونه في ذلك فتفسد أمورهم
ففي الحديث عن ثوبان رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن مما الخوف على أمتي الأئمة المضلين أخرجه ابن ماجة والترمذي وقال هذا حديث صحيح
وفي الصحيح أن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بموت العلماء وحتى إذا لم يبقى عالم اتخذ الناس رؤساء جهالا فأفتوا بغير علم وأضلوا
قال الإمام الطرطوشي رحمه الله تعالى فتدبروا هذا الحديث فإنه يدل على أنه لا يؤتى الناس قط من قبل علمائهم وإنما يؤتون من قبل إذا مات علماؤهم أفتى من ليس بعالم فيؤتى الناس من قبلهم قال وقد صرف عمر رضى الله عنه هذا المعنى تصريفا فقال ما خان أمين قط ولكان ائتمن غير أمين فخان قال ونحن نقول ما ابتدع عالم قط ولكنه استفتى من ليس بعالم فضل وأضل وكذلك فعل ربيعة قال مالك رحمه الله تعالى بكى ربيعة يوما بكاء شديدا فقيل له أمصيبة نزلت بك قال لا ولكن أستفتى من لا علم عنده وظهر في الإسلام أمر عظيم. الباعث على إنكار البدع (ص: 55)
Seorang berilmu yang diikuti dan dipandang dengan mata keshalihan, jika mengerjakannya (shalat-shalat bid’ah), maka jelas akan memberikan samaran terhadap orang awam bahwa hal tersebut adalah termasuk sunnah, jadilah dia seorang yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan keadaannya yang terkadang bisa menjadi langsung (dia berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Kebanyakan manusia melakukan bid’ah dengan sebab ini, dia mengira seorang itu termasuk orang berilmu dan takwa, padahal dia bukan orang seperti itu, maka mereka memperhatikan perkataan dan perbuatannya, lalu mereka mengikutinya dalam hal tersebut dan akhirnya rusaklah keadaan mereka.
Di dalam hadits riwayat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk rasa takut atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan”. HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi dan beliau mengatakan: “Hadits ini adalah hadits yang shahih”.
Dan di dalam kitab Ash Shahih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu tiba-tiba, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, sampai tidak tersisa seorang berilmupun maka akhirnya manusia menjadikan orang-orang bodoh (sebagai ulama), akhirnya mereka (orang-orang bodoh tadi) memberi fatwa tanpa ilmu dan mereka menyesatkan”.
Berkata Imam Ath Tharthusyi rahimahullah berkata: “Renungkanlah kalian semua hadits ini, sesungguhnya hadits ini menunjukkan bahwa manusia tidak didatangi perbuatan bid’ah disebabkan oleh para ulama mereka, akan tetapi bid’ah datang dari sisi jika wafat ulama-ulama mereka, lalu orang yang tidak punya ilmu memberi fatwa, maka datang bid’ah kepada manusia dari sisinya.
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memindahkan makna ini dengan berkata: “Seorang yang amanah tidak akan pernah berkhianat akan tetapi jika diberi amanat orang yang tidak amanat maka akhirnya dia berkhianat”.
Dan kita mengatakan: “Tidak pernah seorang alim melakukan bid’ah akan tetapi orang yang tidak berilmu ditanya fatwa akhirnya dia sesat dan menyesatkan”.
Dan demikianlah perbuatan Rabi’ah, Imam Malik berkata: “Suatu hari Rabi’ah menangis dengan sekencang-kencangnya, ketika ditanya: “Apakah karena musibah yang kamu dapatkan?”, beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi akan ditanya orang yang tidak berilmu maka akhirnya muncul dalam (umat) Islam perkara yang sangat besar”. Lihat Kitab Al Ba’its ‘Ala Inkar Al Bida’, karya Abu Syamah.
2) Menanggung dosa seluruh orang mengikuti Anda dalam dosa dan maksiat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا ».
Artinya: “Al Mundzir bin Jarir medapatkan riwayat dari bapaknya, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mensunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu diamalkan, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. HR. Ibnu Majah dan Muslim.
3) Diadukan kepada Allah Ta’ala oleh orang yang mengikuti Anda di dalam dosa dan maksiat agar Anda mendapat siksa berlipat dan terlaknat, akibat kesesatan yang Anda sebarkan.
{إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا (64) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (65) يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68)} [الأحزاب: 64 - 68]
Artinya: “Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)”. “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong”. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul". “Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”. QS. Al Ahzab: 64-68.
Pesan terakhir…
Jadilah manusia yang merupakan kunci Kebaikan bukan kunci kesesatan
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ ».
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dari manusia ada yang merupakan kunci-kunci untuk kebaikan dan penutup-penutup untuk keburukan dan sesungguhnya dari manusia ada yang merupakan kunci-kunci untuk keburukan dan penutup-penutup untuk kebaikan, maka bahagialah bagi siapa yang telah Allah jadikan kunci-kunci kebaikan melalui tangannya dan celakalah bagi siapa yang telah Allah jadikan kunci-kunci keburukan melalui tangannya”. HR. Ibnu Majah dan dihasankan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1332.
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Ahad 17 Dzulhijjah 1432H Dammam KSA.
Labels:
Artikel,
Ust.Ahmad Zainuddin
Saturday, October 29, 2011
Orang Cerdas Tidak Melewatkan Kesempatan Emas Di Bulan Dzulhijjah…!!!
بسم الله الرحمن, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Para pembaca…semoga Anda selalu dalam keadaan sehat, penuh iman.
Termasuk tingkat kejeniusan yang sangat tinggi adalah mengenal kesempatan-kesempatan emas, waktu-waktu berharga, keadaan-keadaan penting yang disebutkan di dalam syariat Islam berdasarkan Al Quran dan hadits shahih, dan tidak membiarkan kesempatan, waktu dan keadaan tersebut terbuang percuma tanpa diisi dengan amal shalih.
Termasuk di dalamnya KESEMPATAN EMAS DI BULAN DZULHIJJAH!!!
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ .
Artinya: "Tiada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini". yakni 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, mereka (para shahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya)?", beliau bersabda: "Dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya), kecuali seseorang yang berjuang dengan dirinya dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan apapun". HR. Bukhari dan Muslim.
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ".
Artinya: "Tiada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan yang lebih ia cintai untuk beramal di dalamnya daripada 10 hari ini, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya”. HR. Ahmad dan di shahihkan oleh Al Mundziry dan Ahmad Syakir tetapi dilemahkan oleh Al Albani di dalam kitab Dha’ih At Targhib wa At Tarhib, 744.
Abu Qatadah Al Anshari radhiyallahu 'anhu berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». رواه مسلم
Artinya: Bahwa Rasulullah ditanya tentang puasa Hari Arafah: "Menghapuskan (dosa-dosa) setahun lalu dan setahun yang akan datang". HR. Muslim.
Dari Hadits-hadits di atas dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, seperti; Menunaikan haji dan umrah, berpuasa, berkurban, bertakbir, bertahmid dan bertasbih serta bertahlil, serta amal shalih lainnya.
Kenapa dianggap cerdas orang yang menggunakan kesempatan emas ini?
1) Karena mungkin ini adalah ibadah terakhir dan ini pertanda baik dari Allah Ta’ala.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ ». فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ ».
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan memakainya”, beliau ditanya: “Bagaimana Allah akan memakainya, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalaih sebelum meninggal”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab shahih Al Jami’, no. 304.
2) Karena mungkin kesempatan ini tidak akan kembali lagi.
3) Karena mungkin jika kesempatan ini kembali kita tidak dalam keadaan sehat dan mampu beramal shalih.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ: " اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلُكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ "
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menasehatinya: “Gunakanlah dengan baik lima perkara sebelum datang lima (yang lain): MASA MUDAMU SEBELUM DATANG MASA TUAMU, SEHATMU SEBELUM DATANG SAKITMU, KAYAMU SEBELUM DATANG FAKIRMU, WAKTU LUANGMU SEBELUM DATANG WAKTU SIBUKMU DAN HIDUPMU SEBELUM DATANG MATIMU”. HR. Al Hakim, Al Baihaqi dan di shahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 1077.
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
Artinya: “Abdullah bin Umar senantiasa mengucapkan: “Jika kamu masuk waktu sore maka janganlah menunggu waktu pagi dan jika kamu masuk waktu pagi maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”. HR. Bukhari.
4) Karena sifat malas adalah sifatnya munafik.
{إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا }
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. QS. An NIsa: 142.
{وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ }
Artinya: “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan”. QS. At Taubah:54.
Mari perhatikan perkataan yang sangat luar biasa ini …terutama bagi pemalas beribadah…
Berkata Syeikh Al Mufassir Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullah:
والكسل لا يكون إلا من فقد الرغبة من قلوبهم، فلولا أن قلوبهم فارغة من الرغبة إلى الله وإلى ما عنده، عادمة للإيمان، لم يصدر منهم الكسل تفسير السعدي (ص: 210)
Artinya: “Sikap malas tidak akan ada kecuali bagi siapa yang telah kehilangan keinginan (terhadap kebaikan) dari hati-hati mereka, maka kalau seandainya hati-hati mereka tidak terlepas dari keinginan kepada Allah dan (keinginan) kepada apa yang ada di sisi-Nya (yang disediakan-Nya berupa nikmat) dan hilangnya iman, maka tidak akan keluar dari mereka sikap malas”. Lihat tafsir As Sa’diy, hal. 210.
Ditulis oleh: Ahmad Zainuddin
Selasa 27 Dzulhijjah 1432H Dammam KSA
Labels:
Artikel,
Ust.Ahmad Zainuddin
Wednesday, October 19, 2011
Airport Jeddah Bukan Miqat Untuk Berihram – Untaian Artikel “Menggapai Haji Mabrur”, Bag. 10
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Miqat terbagi menjadi dua:
1. Miqat Zamani
Yaitu bulan-bulan yang telah ditentukan untuk melakukan amalan ibadah haji yang apabila dilakukan diluar waktu tersebut tidak sah. Bulan-bulan itu ialah: Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.
{الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ}
Artinya: " (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji”. QS. Al Baqrah: 197.
وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ - رضى الله عنهما - أَشْهُرُ الْحَجِّ شَوَّالٌ وَذُو الْقَعْدَةِ وَعَشْرٌ مِنْ ذِى الْحَجَّةِ .
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Bulan-bulan haji Syawwal, Dzul Qo'dah, dan Sepuluh hari (pertama) dari Dzulhijjah. HR. Bukhari.
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - مِنَ السُّنَّةِ أَنْ لاَ يُحْرِمَ بِالْحَجِّ إِلاَّ فِى أَشْهُرِ الْحَجِّ .
Artinya: "Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Termasuk Sunnah, tidak boleh berihram (untuk haji) kecuali pada bulan-bulan haji". HR. Bukhari.
2. Miqat Makani.
Yaitu tempat-tempat yang telah ditentukan untuk memulai ihram bagi yang ingin melakukan haji maupun umrah.
Tempat-tempat itu ialah:
1.Dzulhulaifah (yang sekarang disebut oleh orang awam Bir Ali), bagi penduduk Madinah.
2.Al Juhfah (Rabigh), bagi penduduk Syam, Mesir, dan Maroko. Al Juhfah dekat dengan Rabigh yang sekarang dijadikan miqat sebagai gantinya.
3.Qarnul Manazil (As-Sail Al-Kabir), bagi penduduk Najd, dikenal dengan As Sail Al Kabir (di daerah Taif).
4.Yalamlam (As Sa'diyyah), bagi penduduk Yaman.
5.Dzatu ‘Irqin, bagi penduduk Irak dan yang datang dari daerah timur.
Wajib bagi yang melewati miqat-miqat ini untuk berihram darinya dan diharamkan melewatinya tanpa berihram, jika menuju mekkah bermaksud menunaikan haji atau umrah, baik dari jalan darat, laut atau udara.
Sedangkan bagi penduduk Mekkah dan yang berada diantara miqat dengan Mekkah memulai ihram dari rumah masing-masing. Sedang yang melewati selain miqat hendaklah disejajarkan dengan miqat terdekat. Ini berdasarkan hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau meriwayatkan:
وَقَّتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ وَلأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ. قَالَ « فَهُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ فَمَنْ كَانَ دُونَهُنَّ فَمِنْ أَهْلِهِ وَكَذَا فَكَذَلِكَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْهَا ».
Artinya: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menentukan miqat untuk penduduk Madinah Dzul Hulaifah, untuk penduduk Syam Al-Juhfah, untuk penduduk Najd Qarnul Manazil, untuk penduduk Yaman Yalamlam, beliau bersabda: "Miqat-miqat itu bagi penduduknya dan bagi yang melewatinya yang bukan dari penduduknya, siapa yang ingin melaksanakan haji atau umrah, dan barangsiapa yang berada di dalam miqat-miqat itu dari penduduknya maka berihram dari tempatnya, begitupula penduduk kota Mekkah berihram dari Mekkah". HR. Bukhari dan Muslim.
Sedang penduduk Irak maka miqatnya adalah Dzatu 'Irq, berdasarkan riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau bercerita:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَّتَ لأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ عِرْقٍ.
Artinya: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menentukan miqat penduduk Irak Dzatu 'Irq". HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 1744.
Hal-hal Penting yang berkaitan dengan Miqat:
1) Tidak disyaratkan harus berihram di tempat miqat yang sudah ditentukan, tetapi boleh disana atau boleh dengan sejajar dengannya. Lihat kitab Al Ijaz yang dikarang oleh An Nawawi, hal. 09.
2) Tidak diperbolehkan bagi yang melewati miqat melalui udara dan dia menginginkan untuk menunaikan haji atau umrah, untuk mengakhirkan berihram sesampainya di airpot Jeddah, karena beberapa sebab:
- Karena airport Jeddah bukan miqat yang telah ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
- Karena airport Jeddah berada di dalam miqat.
- Karena berarti yang berihram di airport Jeddah sudah meninggalkan salah satu kewajiban manasik haji atau umrah yaitu berihram di miqat.
3) Siapa yang di dalam perjalanannya dtidak mendapati miqat yang sudah ditentukan maka, dia berihram jika sejajar dengan awal miqat yang dia dapati. Dan jika tidak ada yang sejajar maka berihram ketika berada di tempat yang jaraknya antara dia dan Mekkah sekitar 1 hari 1 malam perjalanan. Lihat kitab Mansak , karya An Nawawi, hal. 09 dan Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 17/41.
4) Barangsiapa yang datang dari negaranya menuju kota Madinah dan singgah di airport Jeddah, kemudian baru ke kota Madinah, maka dia berihram dari kota Madinah dan tidak ada kewajiban apa-apa atasnya, karena dia berihram dari kota madinah. Lihat Fatawa Ibnu Utsaimin, 21/313,337.
5) Barangsiapa yang ingin menunaikan haji atau umrah dan melewati miqat tanpa berihram di miqat, mak dia harus kembali ke miqat yang dia lewatiu dan berihram di sana, jika dia tidak kembali dan berihram setelah miqat maka wajib atasnya membayar fidyah yaitu dengan menyembelih 1 kambing”. Hal ini berdasarkan fatwa dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ نَسِىَ مِنْ نُسُكِهِ شَيْئًا أَوْ تَرَكَهُ فَلْيُهْرِقْ دَمًا.
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang lupa dari sesuatu ibadah haji/umrahnya atau telah meninggalkannya maka hendaklah dia menumpahkan darah (yaitu menyembelih hewan yang sah dikurbankan)”. HR. Malik di dalam Al Muwaththa’, Al Baihaqi dan dishahihkan sanadnya sampai ke Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma oleh Al Albani di dalam kitab Irwa Al Ghalil, 4/299.
Nasehat untuk calon jama’ah haji Indonesia yang langsung pergi ke Mekkah dan otomatis harus berihram di miqat yang dia lewati ketika di dalam pesawat.
1) Pakailah kain ihram dari mulai menaiki pesawat ketika mau terbang menuju Mekkah jika di perakirakan sulit untuk mengganti pakaian dengan dua kain ihram di pesawat, dan ini untuk para lelaki yang ingin berihram.
2) Berihramlah di pesawat ketika sejajar dengan miqat yang dilewati.
3) Jika anda belum berihram di miqat di lewati maka anda harus kembali ke miqat yang dilewati tadi.
4) Jika anda berihram di airport Jeddah maka wajib bagi anda membayar fidyah yaitu, menyembelih 1 ekor kambing.
5) Tidak benar keyakinan bahwa berihram harus atau wajib dalam keadaan suci dari hadats besar atau kecil, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memperbolehkan bagi Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha yang sedang nifas untuk berihram sebagaimana dalam riwayat Muslim di dalam kitab Shahihnya.
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Selasa 20 Dzulqa’dah 1432H Dammam KSA.
Labels:
Artikel,
Seputar Haji,
Ust.Ahmad Zainuddin
Subscribe to:
Posts (Atom)